Kamis, 21 April 2016

PERAN BIDAN DALAM MENGURANGI AKI


Masalah: Desa dengan angka kematian ibu tinggi.

Angka kematian Ibu di Indonesia masih tinggi. Banyak upaya yang telah dilakukan pemerintah maupun tenaga kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI), namun nampaknya tidak semua upaya tersebut berhasil. Dibuktikan dengan angka kematian ibu yang ditargetkan menurun menjadi 102 kematian/ 100 ribu jumlah kelahiran hidup pada tahun 2015 namun masih mencapai angka hingga 359 kematian/ 100 ribu jumlah kelahiran hidup.
Banyak hal yang menjadi penyebab kematian ibu, beberapa di antaranya adalah perdarahan, hipertensi, maupun penyebab lainnya seperti gangguan metabolik dan infeksi. Selain itu kematian ibu juga dapat disebabkan karena ibu melahirkan pada usia yang terlalu muda (<22 tahun) ataupun terlalu tua (>35 tahun). Oleh karena itu, bidan sebagai ujung tombak yang berperan dalam menurunkan angka kematian ibu perlu meningkatkan pelayanan dengan promotif dan preventif guna mencegah meningkatnya angka kematian ibu.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh bidan dalam rangka untuk menurunkan AKI adalah melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa atau sering disebut dengan PKMD. Yaitu, rangkaian kegiatan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan atas dasar gotong royong dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri dalam memecahkan masalah untuk memenuhi kebutuhannya di bidang kesehatan dan di bidang lain yang berkaitan agar mampu mencapai kehidupan sehat sejahtera. PKMD dapat dilakukan melalui posyandu, polindes, dan lain-lain.
Bagaimana bidan dapat mewujudkan kegiatan itu?
Masyarakat yang tinggal di desa-desa cenderung menutup diri terhadap perkembangan teknologi dan lebih memilih cara-cara tradisional yang memang menjadi kebiasaan mereka sejak dulu. Sebagai contoh, ibu hamil lebih memilih untuk bersalin di dukun bayi daripada petugas kesehatan. Maka akibat dari ketidaktahuan tersebut dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ibu bisa perdarahan, eklampsi, dan kegawatdaruratan lainnya yang tidak tertangani dengan baik hingga berakhir dengan kematian ibu.
Langkah pertama yang harus bidan lakukan adalah membangun kepercayaan masyarakat. Untuk itu bidan perlu melakukan pendekatan terutama pada tokoh-tokoh yang paling dekat dengan masyarakat, misalnya kader. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Melakukan musyawarah-musyawarah mengenai program-program yang akan dilakukan untuk meningkatkan kesehatan. Menentukan waktu juga tempat pelaksanaannya.
Posyandu merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang dibentuk melalui musyawarah mufakat di desa/kelurahan dan dikelola oleh pengelola posyandu, yang dikukuhkan dengan keputusan kepala desa/lurah. Sasaran Posyandu adalah seluruh masyarakat/keluarga, utamanya adalah bayi baru lahir, bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, ibu nifas, pasangan usia subur, remaja dan lanjut usia (lansia). Kegiatan yang dilakukan di posyandu antara lain:
1.      Kesehatan ibu dan anak (KIA)
·         Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) atau pil besi (Fe), minimal 3 kali pemberian atau 90 TTD.
·         Immunisasi TT
·         Pemeriksaan kehamilan (minimal 4 kali selama hamil)
2.      Gizi
·         Pemantauan pertumbuhan melalui perimbangan bulanan
·         Pemberian vit A dosis tinggi (pada bulan vitamin A, yaitu Februari dan Agustus)
·         Pemberian makanan tambahan (PMT)
3.      Immunisasi
4.      KB: pemberian Pil atau kondom
5.      Penanggulangan diare: pemberian oralit dan pengobatan
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, contohnya ANC atau pemeriksaan kehamilan dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu. Bidan dapat memperkirakan atau mendiagnosa dini terhadap persalinan yang akan dialami ibu di kemudian hari. Sehingga dapat dilakukan pencegahan segera kepada ibu. Beberapa manfaat yang didapatkan ibu melalui kegiatan posyandu adalah:
Ø  Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, pemeriksaan kehamilan dan nifas, pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, immunisasi TT untuk ibu hamil.
Ø  Pemberian vitamin A: pemberian vit A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU.2007). Akibat dari kurangnya vitamin A adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas Kesehatan RI. 2006:95)
Selain posyandu, polindes juga dapat menjadi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebenarnya pondok bersalin desa (polindes) adalah salah satu bentuk peran serta masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongnan persalinan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk KB di desa (Depkes RI, 1999). Polindes dikelola oleh pamong desa setempat.
Berbeda dengan posyandu yang pelaksanaannya dilakukan oleh kader didukung oleh petugas puskesmas, maka petugas polindes pelayanannya tergantung pada keberadaan bidan, oleh karena pelayanan di polindes merupakan pelayanan oleh profesi bidan. Dalam hal ini, bidan sangat berperan penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut karena membantu persalinan merupakan tugas bidan.
Kader masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun bayi, oleh karena itu bidan harus melakukan kerjasama atau kemitraan dengan dukun bayi dalam pertolongan persalinan. Namun, bidan sebaiknya bisa membimbing dukun bayi pada saat membantu proses persalinan. Kader posyandu dapat pula berperan di polindes seperti perannya dalam melaksanakan kegiatan posyandu yaitu dalam penggerakkan masyarakat dan penyuluhan. Kegiatan utama dari polindes adalah:
1.      Pengamatan dan kewaspadaan dini (survey penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku beresiko, surveilans lingkungan dan masalah kesehatan lainnya)
2.      Penanganan kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan kesehatan dasar.
Dalam penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan tidak hanya membahas topik mengenai kesehatan ibu, tetapi juga mencakup segala aspek seperti kebersihan lingkungan. Lingkungan yang kotor dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Ibu hamil juga dapat terserang penyakit apabila lingkungannya tidak tertata dengan baik. Oleh karena itu sanitasi lingkungan juga perlu diperbaiki, baik dari pengairan, pembuangan kotoran, pencahayaan, ventilasi, maupun masalah sampah atau selokan-selokan yang dapat menjadi tempat perkembangbiakkan mikroorganisme penyebab penyakit.
Bidan melakukan promosi kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan umumnya kepada masyarakat dan khusus kepada ibu hamil. Pendidikan kesehatan yang dapat diberikan antara lain mengenai kehamilan seperti proses mana yang fisiologis maupun yang merupakan tanda-tanda bahaya kehamilan hingga ke pemenuhan nutrisi, apa saja makanan yang baik dikonsumsi, apa saja makanan yang harus dihindari, bagaimana cara mengolah bahan makanan agar nutrisinya tidak hilang, dan lain sebagainya. 
Pendidikan kesehatan tidak hanya diberikan kepada ibu hamil saja, akan tetapi keluarga dan suami juga turut membantu dalam menjaga kesehatan baik untuk ibu hamil maupun untuk dirinya sendiri.
 Jika keadaan memungkinkan, sarana dan prasarana dilengkapi agar dapat menunjang permasalahan yang ada. Misalnya menyiapkan ambulance atau setidaknya mobil untuk melakukan rujukan ke instansi yang lebih tinggi sehingga jika ada kejadian yang tak terduga dapat mempercepat penanganan.
Selain hal-hal di atas dapat juga dilakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Yaitu, perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Terdapat 10 perilaku yang dapat dilakukan dalam melaksanakan PHBS, antara lain:
1.      Persalinan ditolong oleh petugas kesehatan
2.      Memberi bayi ASI eksklusif
3.      Menimbang bayi dan balita
4.      Menggunakan air bersih
5.      Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6.      Menggunakan jamban sehat
7.      Memberantas jentik nyamuk
8.      Makan buah dan sayur setiap hari
9.      Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10.  Tidak merokok di dalam rumah
Bagi masyarakat, PHBS dapat memberikan banyak manfaat, beberapa di antaranya adalah:
Ø  Masyarakat  mampu mengupayakan lingkungan sehat
Ø  Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
Ø  Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Ø  Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, tabungan ibu bersalin, ambulan desa dan lain-lain
TOGA atau tanaman obat keluarga juga dapat menjadi pendorong untuk menjaga kesehatan masyarakat. Obat-obatan produksi pabrik cenderung mahal dan mempunyai efek yang lebih besar daripada obat-obatan tradisional. Jadi, untuk mengurangi efek yang ditimbulkan obat-obatan buatan pabrik, TOGA dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan. Tetapi penggunaan tetap harus diperhatikan, khususnya untuk ibu hamil.
Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan angka kematian ibu dapat menurun. Lingkungan tempat tinggal ibu yang sehat, pengetahuan tentang kesehatan, petugas kesehatan yang tanggap, perilaku masyarakat yang sehat, deteksi dini masalah yang dapat terjadi pada kehamilan, maupun kader yang dapat merangkul masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan. Jika semua aspek telah terpenuhi, tentunya derajat kesehatan ibu akan meningkat sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu.


Referensi:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar