Masalah:
Desa dengan angka kematian ibu tinggi.
Angka
kematian Ibu di Indonesia masih tinggi. Banyak upaya yang telah dilakukan
pemerintah maupun tenaga kesehatan untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI),
namun nampaknya tidak semua upaya tersebut berhasil. Dibuktikan dengan angka
kematian ibu yang ditargetkan menurun menjadi 102 kematian/ 100 ribu jumlah
kelahiran hidup pada tahun 2015 namun masih mencapai angka hingga 359 kematian/
100 ribu jumlah kelahiran hidup.
Banyak
hal yang menjadi penyebab kematian ibu, beberapa di antaranya adalah
perdarahan, hipertensi, maupun penyebab lainnya seperti gangguan metabolik dan
infeksi. Selain itu kematian ibu juga dapat disebabkan karena ibu melahirkan
pada usia yang terlalu muda (<22 tahun) ataupun terlalu tua (>35 tahun).
Oleh karena itu, bidan sebagai ujung tombak yang berperan dalam menurunkan
angka kematian ibu perlu meningkatkan pelayanan dengan promotif dan preventif
guna mencegah meningkatnya angka kematian ibu.
Salah
satu upaya yang dapat dilakukan oleh bidan dalam rangka untuk menurunkan AKI
adalah melalui pembangunan kesehatan masyarakat desa atau sering disebut dengan
PKMD. Yaitu, rangkaian kegiatan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan atas
dasar gotong royong dan swadaya dalam rangka menolong diri sendiri dalam
memecahkan masalah untuk memenuhi kebutuhannya di bidang kesehatan dan di
bidang lain yang berkaitan agar mampu mencapai kehidupan sehat sejahtera. PKMD
dapat dilakukan melalui posyandu, polindes, dan lain-lain.
Bagaimana
bidan dapat mewujudkan kegiatan itu?
Masyarakat
yang tinggal di desa-desa cenderung menutup diri terhadap perkembangan
teknologi dan lebih memilih cara-cara tradisional yang memang menjadi kebiasaan
mereka sejak dulu. Sebagai contoh, ibu hamil lebih memilih untuk bersalin di
dukun bayi daripada petugas kesehatan. Maka akibat dari ketidaktahuan tersebut
dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ibu bisa perdarahan, eklampsi, dan
kegawatdaruratan lainnya yang tidak tertangani dengan baik hingga berakhir
dengan kematian ibu.
Langkah
pertama yang harus bidan lakukan adalah membangun kepercayaan masyarakat. Untuk
itu bidan perlu melakukan pendekatan terutama pada tokoh-tokoh yang paling
dekat dengan masyarakat, misalnya kader. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk
membangun kepercayaan masyarakat terhadap tenaga kesehatan. Melakukan
musyawarah-musyawarah mengenai program-program yang akan dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan. Menentukan waktu juga tempat pelaksanaannya.
Posyandu
merupakan wadah pemberdayaan masyarakat yang dibentuk melalui musyawarah
mufakat di desa/kelurahan dan dikelola oleh pengelola posyandu, yang dikukuhkan
dengan keputusan kepala desa/lurah. Sasaran Posyandu adalah seluruh
masyarakat/keluarga, utamanya adalah bayi baru lahir, bayi, balita, ibu hamil,
ibu menyusui, ibu nifas, pasangan usia subur, remaja dan lanjut usia (lansia).
Kegiatan yang dilakukan di posyandu antara lain:
1. Kesehatan
ibu dan anak (KIA)
·
Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) atau
pil besi (Fe), minimal 3 kali pemberian atau 90 TTD.
·
Immunisasi TT
·
Pemeriksaan kehamilan (minimal 4 kali
selama hamil)
2. Gizi
·
Pemantauan pertumbuhan melalui
perimbangan bulanan
·
Pemberian vit A dosis tinggi (pada bulan
vitamin A, yaitu Februari dan Agustus)
·
Pemberian makanan tambahan (PMT)
3. Immunisasi
4. KB:
pemberian Pil atau kondom
5. Penanggulangan
diare: pemberian oralit dan pengobatan
Melalui
kegiatan-kegiatan tersebut, contohnya ANC atau pemeriksaan kehamilan dapat
meningkatkan derajat kesehatan ibu. Bidan dapat memperkirakan atau mendiagnosa
dini terhadap persalinan yang akan dialami ibu di kemudian hari. Sehingga dapat
dilakukan pencegahan segera kepada ibu. Beberapa manfaat yang didapatkan ibu
melalui kegiatan posyandu adalah:
Ø Pemeliharaan
kesehatan ibu di posyandu, pemeriksaan kehamilan dan nifas, pelayanan
peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, immunisasi
TT untuk ibu hamil.
Ø Pemberian
vitamin A: pemberian vit A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM
USU.2007). Akibat dari kurangnya vitamin A adalah menurunnya daya tahan
tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas
Kesehatan RI. 2006:95)
Selain
posyandu, polindes juga dapat menjadi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Sebenarnya pondok bersalin desa (polindes) adalah salah satu bentuk
peran serta masyarakat dalam menyediakan tempat pertolongnan persalinan dan
pelayanan kesehatan ibu dan anak, termasuk KB di desa (Depkes RI, 1999). Polindes dikelola oleh pamong desa setempat.
Berbeda
dengan posyandu yang pelaksanaannya dilakukan oleh kader didukung oleh petugas
puskesmas, maka petugas polindes pelayanannya tergantung pada keberadaan bidan,
oleh karena pelayanan di polindes merupakan pelayanan oleh profesi bidan. Dalam
hal ini, bidan sangat berperan penting dalam pelaksanaan kegiatan tersebut
karena membantu persalinan merupakan tugas bidan.
Kader
masyarakat yang paling terkait dengan pelayanan di polindes adalah dukun bayi,
oleh karena itu bidan harus melakukan kerjasama atau kemitraan dengan dukun
bayi dalam pertolongan persalinan. Namun, bidan sebaiknya bisa membimbing dukun
bayi pada saat membantu proses persalinan. Kader posyandu dapat pula berperan
di polindes seperti perannya dalam melaksanakan kegiatan posyandu yaitu dalam
penggerakkan masyarakat dan penyuluhan. Kegiatan utama dari polindes adalah:
1. Pengamatan
dan kewaspadaan dini (survey penyakit, surveilans gizi, surveilans perilaku
beresiko, surveilans lingkungan dan masalah kesehatan lainnya)
2. Penanganan
kegawatdaruratan kesehatan dan kesiapsiagaan terhadap bencana serta pelayanan
kesehatan dasar.
Dalam
penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan tidak hanya membahas topik mengenai
kesehatan ibu, tetapi juga mencakup segala aspek seperti kebersihan lingkungan.
Lingkungan yang kotor dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Ibu hamil juga
dapat terserang penyakit apabila lingkungannya tidak tertata dengan baik. Oleh
karena itu sanitasi lingkungan juga perlu diperbaiki, baik dari pengairan,
pembuangan kotoran, pencahayaan, ventilasi, maupun masalah sampah atau
selokan-selokan yang dapat menjadi tempat perkembangbiakkan mikroorganisme
penyebab penyakit.
Bidan
melakukan promosi kesehatan dan memberikan pendidikan kesehatan umumnya kepada
masyarakat dan khusus kepada ibu hamil. Pendidikan kesehatan yang dapat
diberikan antara lain mengenai kehamilan seperti proses mana yang fisiologis
maupun yang merupakan tanda-tanda bahaya kehamilan hingga ke pemenuhan nutrisi,
apa saja makanan yang baik dikonsumsi, apa saja makanan yang harus dihindari,
bagaimana cara mengolah bahan makanan agar nutrisinya tidak hilang, dan lain
sebagainya.
Pendidikan
kesehatan tidak hanya diberikan kepada ibu hamil saja, akan tetapi keluarga dan
suami juga turut membantu dalam menjaga kesehatan baik untuk ibu hamil maupun
untuk dirinya sendiri.
Jika keadaan memungkinkan, sarana dan
prasarana dilengkapi agar dapat menunjang permasalahan yang ada. Misalnya
menyiapkan ambulance atau setidaknya mobil untuk melakukan rujukan ke instansi
yang lebih tinggi sehingga jika ada kejadian yang tak terduga dapat mempercepat
penanganan.
Selain
hal-hal di atas dapat juga dilakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Yaitu, perilaku kesehatan yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga anggota
keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan
berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Terdapat 10
perilaku yang dapat dilakukan dalam melaksanakan PHBS, antara lain:
1. Persalinan
ditolong oleh petugas kesehatan
2. Memberi
bayi ASI eksklusif
3. Menimbang
bayi dan balita
4. Menggunakan
air bersih
5. Mencuci
tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan
jamban sehat
7. Memberantas
jentik nyamuk
8. Makan
buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan
aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak
merokok di dalam rumah
Bagi
masyarakat, PHBS dapat memberikan banyak manfaat, beberapa di antaranya adalah:
Ø Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan sehat
Ø Masyarakat
mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan
Ø Masyarakat
memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Ø Masyarakat
mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti
posyandu, tabungan ibu bersalin, ambulan desa dan lain-lain
TOGA
atau tanaman obat keluarga juga dapat menjadi pendorong untuk menjaga kesehatan
masyarakat. Obat-obatan produksi pabrik cenderung mahal dan mempunyai efek yang
lebih besar daripada obat-obatan tradisional. Jadi, untuk mengurangi efek yang
ditimbulkan obat-obatan buatan pabrik, TOGA dapat digunakan sebagai alternatif
untuk pengobatan. Tetapi penggunaan tetap harus diperhatikan, khususnya untuk
ibu hamil.
Dengan adanya
kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan angka kematian ibu dapat menurun. Lingkungan
tempat tinggal ibu yang sehat, pengetahuan tentang kesehatan, petugas kesehatan
yang tanggap, perilaku masyarakat yang sehat, deteksi dini masalah yang dapat
terjadi pada kehamilan, maupun kader yang dapat merangkul masyarakat untuk
peduli terhadap kesehatan. Jika semua aspek telah terpenuhi, tentunya derajat
kesehatan ibu akan meningkat sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu.Referensi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar